Minggu, 08 Mei 2011

WISATA ZIARAH KE SYEKH MAULANA MAGHRIBI PARANGTRITIS






Siapa sebenarnya Syekh Maulana Maghribi itu? Berdasarkan salah satu cerita atau babad sejarah Kerajaan Demak, Syekh Maulana Maghribi adalah seorang pemeluk agama Islam dari Jazirah Arab. Beliau adalah penyebar agama Islam yang memiliki ilmu sangat tinggi. Sebelum sampai di Demak, beliau terlebih dahulu mengunjungi tanah Pasai (Sumatera). Sebuah riwayat juga mengatakan bahwa Maulana Maghribi masih keturunan Nabi Muhammad SAW dan masuk golongan waliullah di tanah Jawa.

Syekh Maulana Maghribi mendarat di Jawa bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Demak. Beliau datang dengan tujuan untuk mengIslamkan orang Jawa. Runtuhnya Kerajaan Majapahit (tonggak terakhir kerajaan Hindu di Jawa) diganti dengan berdirinya Kerajaan Demak yang didukung oleh para wali (orang takwa).

Sesudah pelaksanaan pemerintahan di Demak berjalan baik dan rakyat mulai tenteram, para wali membagi tugas dan wilayah penyebaran agama Islam. Tugas pertama Syekh Maulana Magribi di daerah Blambangan, Jawa Timur. Beberapa saat setelah menetap di sana, Syekh Maulana Maghribi menikah dengan putri Adipati Blambangan. Namun pernikahan baru berjalan beberapa bulan, beliau diusir oleh Adipati Blambangan karena terbukanya kedok bahwa Syekh Maulana ingin menyiarkan agama Islam.

Setelah meninggalkan Blambangan, Syekh Maulana Maghribi kemudian menuju Tuban. Di Kota tersebut, Syekh Maulana Maghribi ke tempat sahabatnya yang sama-sama dari Pasai, satu saudara dengan Sunan Bejagung dan Syekh Siti Jenar. Dari kota Tuban, Syekh Maulana Maghribi kemudian melanjutkan pengembaraan syiar agamanya ke Mancingan. Ketika menyebarkan Islam di Mancingan, Syekh Maulana sebenarnya sudah memiliki putra lelaki bernama Jaka Tarub (atau Kidang Telangkas) dari istri bernama Rasa Wulan, adik dari Sunan Kalijaga (R Sahid). Tatkala ditinggal pergi ayahnya, Jaka Tarub masih bayi.

Saat meninggalkan Blambangan, sesungguhnya istri Syekh Maulana Maghribi juga tengah mengandung seorang putra yang kemudian bernama Jaka Samudra. Belakangan hari Jaka Samudra juga menjadi waliullah di Giri, yang bergelar Prabu Satmata atau Sunan Giri.

Sebelum Syekh Maulana Magribi sampai Mancingan, di sana sudah menetap seorang pendeta Budha yang pandai bernama Kyai Selaening. Kediaman pendeta tersebut di sebelah timur Parangwedang. Tempat pemujaan pendeta dan para muridnya di candi yang berdiri di atas Gunung Sentana. Mula-mula Syekh Maulana menyamar sebagai murid Kyai Selaening. Dalam kehidupan keseharian, Syekh Maulana kadang-kadang memperlihatkan kelebihannya pada masyarakat setempat. Lama kelamaan Kyai Selaening mendengar kelebihan yang dimiliki Syekh Maulana Maghribi. Akhirnya Kiai Selaening memanggil Syekh Maulana Maghribi dan ditanya siapa sebenarnya dirinya.

Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Syekh Maulana Maghribi untuk menyampaikan kepada Kyai Selaening tentang ilmu agama yang sebenarnya. Kedua orang tersebut kemudian saling berdebat ilmu. Akan tetapi karena Kyai Selaening tidak mampu menandingi ilmu Syekh Maulana, sejak saat itu Kiai Selaening ganti berguru kepada Syekh Maulana. Kiai Selaening kemudian masuk agama Islam. Pada waktu itu, di padepokan Kyai Selaening sudah ada dua orang putra pelarian dari Kerajaan Majapait yang berlindung di sana yaitu Raden Dhandhun dan Raden Dhandher. Keduanya anak dari Prabu Brawijaya V dari Majapait. Karena Kyai Selaening masuk Islam, dua putra Raja Majapait itu juga kemudian menjadi Islam. Kedua orang itu kemudian berganti nama menjadi Syekh Bela-Belu dan Kyai Gagang (Dami) Aking.

Meski berhasil mengislamkan Kiai Saleaning dan para muridnya, Syekh Maulana tidak segera meninggal Mancingan. Di sana beliau tinggal selama beberapa tahun, membangun padepokan dan mengajarkan agama Islam kepada warga desa. Beliau tinggal di padepokan di atas Gunung Sentono dekat candi. Candi tersebut sedikit demi sedikit dikurangi fungsinya sebagai tempat pemujaan. Hingga meninggal, Kyai Selaening masih menetap di padepokan sebelah timur Parangwedang. Sebelumnya beliau berpesan kepada anak cucunya agar kuburannya jangan diistimekan. Baru tahun 1950-an makam Kiai Selaening dipugar oleh kerabat dari Daengan . Kemudian pada tahun 1961 diperbaiki hingga lebih baik lagi oleh salah seorang pengusaha dari kota.

Sesudah dianggap cukup menyampaikan syiar di sana, Syekh Maulana meninggalkan Mancingan kemudian berpesan agar padepokannya dihidup-hidupkan seperti halnya ketika orang-orang itu menjaga candi. Di padepokan tersebut kemudian orang-orang membuat makam bernisan. Siapa yang ingin meminta berkah Syekh Maulana cukup meminta di depan nisan tersebut, seolah berhadapan langsung dengan beliau. Sesudah dari Mancingan, Syekh Maulana Maghribi atau Syekh Maulana Malik Ibrahim melanjutkan syiar agama Islam ke wilayah Jawa Timur. Setelah meninggal jenazahnya dimakamkan di makam Gapura, wilayah Gresik.

Silsilah Syekh Maulana Maghribi menurunkan raja-raja Mataram: --- Syekh Jumadil Qubro (Persia Tanah Arab) --- Ny Tabirah --- Syekh Maulana Maghribi + Dewi Rasa Wulan, putri Raden Temenggung Wilatikta Bupati Tuban (diperistri Syekh Maulana) ---Jaka Tarub (memperistri Dewi Nawangwulan) --- Nawangsih (memperistri Raden Bondhan Kejawan) --- Kiai Ageng Getas Pendhawa --- Kiai Ageng Sela --- Kiai Ageng Anis/Henis --- Kiai Ageng Pemanahan (Kiai Ageng Mataram) --- Kanjeng Panembahan Senapati --- Kanjeng Susuhunan Seda Krapyak-Kanjeng Sultan Agung Anyakrakusuma-Kanjeng Susuhunan Prabu Amangkurat (Seda Tegalarum)-Kanjeng Susuhunan Paku Buwana I-Kanjeng Susuhunan Mangkurat Jawi-raja-raja Keraton Surakarta, Yogyakarta, Pakualaman, dan Mangkunegaran.

Kendati makam Syekh Maulana di Gunung Sentana bukan tempat jenazah yang sebenarnya, tetapi setiap ada rombongan peziarah Wali Sanga selalu memerlukan ziarah di makam Syekh Maulana Parangtritis. Seperti halnya makam leluhur keraton lainnya, setiap bulan Sya’ban, makam Syekh Maulana Maghribi juga menerima uang dan perlengkapan pemberian dari Keraton Yogyakarta. Setiap tanggal 25 Sya’ban di makam ini diadakan upacra sadranan. ***

1 komentar:

wisnu mengatakan...

Saya punya data bahwa Syeh maulana Al-maghribi bukanlan Maulana Malik Ibrahim. Di lihat dari garis nasab/keturunan.

Sumber:

1.As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan, Al-Mausuu’ah Li Ansaab Itrati Al-Imam Al-Husaini

2.Dari As-Sayyid Bahruddin Ba’alawi Al-Husaini yang kumpulan catatannya kemudian dibukukan dalam Ensiklopedi Nasab Ahlul Bait yang terdiri dari beberapa volume (jilid)

Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Amir Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan adalah anak ke-1 dari Al-Imam Ahmad Syah Jalaluddin Azmatkhan, dia adalah seorang Raja Ke-4 di Kesultanan Islam Nasarabad India Lama, naik tahta setelah wafatnya sang ayah, yaitu pada tahun 1310 M.

NASAB LENGKAP

Nasab lengkapnya adalah Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Amir Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammul Faqih bin Muhammad Shohib Marbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi Shohib Bait Jubair bin Muhammad Maula Ash-Shouma’ah bin Alwi Al-Mubtakir bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uraidhi bin Imam Ja’far Shodiq bin Imam Muhammad Al-Baqir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Imam Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib Wa Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad.


NAMA ISTERI HUSAIN JAMALUDDIN AKBAR JUMADIL KUBRO

Lalla Fathimah binti Hasan bin Abdullah Al-Maghribi Al-Hasani (Morocco), memiliki 1 anak yaitu: Maulana Muhammad Al-Maghribi.
Puteri Nizamul Muluk dari Delhi (India), memiliki 4 anak yaitu: Maulana Muhammad Jumadil Kubra, Maulana Muhammad ‘Ali Akbar, Maulana Muhammad Al-Baqir (Syekh Subaqir), Syaikh Maulana Wali Islam
Puteri Linang Cahaya binti Raja Sang Tawal/ Sultan Baqi Syah/ Sultan Baqiuddin Syah (Malaysia), melahirkan 3 anak, yaitu: Pangeran Pebahar, Fadhal (Sunan Lembayung), Sunan Kramasari (Sayyid Sembahan Dewa Agung), Syekh Yusuf Shiddiq
Puteri Syahirah atau Puteri Selindung Bulan (Putri Saadong II) dari Kelantan Malaysia, melahirkan 3 anak. yaitu ‘Abdul Malik, ‘Ali Nurul ‘Alam dan Siti ‘Aisyah (Putri Ratna Kusuma)
Puteri Ramawati binti Sultan Zainal Abidin Diraja Champa, melahirkan 1 anak. yaitu: Ibrahim Zainuddin Al-Akbar As-Samarqandiy (Ibrahim Asmoro)
Puteri Jauhar binti Raja Johor Malaysia, melahirkan 2 anak. yaitu Syarif Muhammad Kebungsuan(Mindanao Filipina) dan Sultan Berkat Zainul Alam

NAMA ANAK HUSAIN JAMALUDDIN AKBAR JUMADIL KUBRA

Sayyid Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra Azmatkhan memiliki 15 anak, yaitu:

Ibrahim Zainuddin Al-Akbar As-Samarqandiy (Ibrahim Asmoro) ——> Ayahanda Sunan Ampel (Raden Rahmat)
Maulana Muhammad Al-Maghribi
Maulana Muhammad Jumadil Kubra
Maulana Muhammad ‘Ali Akbar
Maulana Muhammad Al-Baqir (Syekh Subaqir)
Maulana Wali Islam
Pangeran Pebahar
Fadhal (Sunan Lembayung)
Sunan Kramasari (Sayyid Sembahan Dewa Agung)
Yusuf Shiddiq
‘Abdul Malik
‘Ali Nurul ‘Alam (bergelar Maulana ‘Abdul Malik Israil / Sultan Qanbul) —–> Ayahanda Sunan Gunung Jati
Siti ‘Aisyah (Putri Ratna Kusuma)
Barakat Zainul ‘Alam —–> Ayahanda Maulana malik Ibrahim
Muhammad Kebungsuan

Silahkan di check kebenarannya. Karna sejarah itu sangatlah penting dan perlu hati-hati dalam menceritakannya dengan sumber atau data yg jelas.