Sabtu, 22 Agustus 2009
BAHAYA HUBBUNDUNYA (CINTA DUNIA)
“Siapa hatinya cenderung memburu kenikmatan (manisnya) dunia, maka kelak di akhirat tinggal merasakan penderitaan (pahitnya), sebagai akibat tidak suka kehidupan akhirat.” (Ibnu Samak dari Mau’dhatul Hasanah)
CINTA DUNIA PANGKAL SETIAP KEMAKSIATAN BENCI DUNIA PANGKAL SETIAP KEBAIKAN
By: Yuliantoro
“Orang korupsi itu karena cinta dunia,
orang menipu itu karena cinta dunia,
orang iri dengki itu karena cinta dunia,
orang ingin naik pangkat itu karena cinta dunia,
orang menyuap itu karena cinta dunia,
orang ingin nama baik juga karena cinta dunia.”
Rasulullah SAW bersabda: Siapa saja yang saat bangun tidur menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka di hadapan Allah orang tadi tidak memiliki apa-apa. Dan Allah menetapkan pada hati orang itu empat perkara yang membebaninya selama hidup. Empat perkara itu adalah pertama, susah atau prihatin berkesinambungan (selamanya hanya susah dan tidak tenteram), sibuk berkesinambungan (tiada waktu senggang selamannya), fakir atau selalu kekurangan, tidak pernah kecukupan (tidak bakal kaya) selamanya dan banyak anggan-angan (berkhayal) sepanjang masa.
Oleh karena itu, hendaknya pertama kali yang dipikirkan ketika bangun pagi adalah akhirat.
“Orang korupsi itu karena cinta dunia,
orang menipu itu karena cinta dunia,
orang iri dengki itu karena cinta dunia,
orang ingin naik pangkat itu karena cinta dunia,
orang menyuap itu karena cinta dunia,
orang ingin nama baik juga karena cinta dunia.”
Rasulullah SAW bersabda: Siapa saja yang saat bangun tidur menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka di hadapan Allah orang tadi tidak memiliki apa-apa. Dan Allah menetapkan pada hati orang itu empat perkara yang membebaninya selama hidup. Empat perkara itu adalah pertama, susah atau prihatin berkesinambungan (selamanya hanya susah dan tidak tenteram), sibuk berkesinambungan (tiada waktu senggang selamannya), fakir atau selalu kekurangan, tidak pernah kecukupan (tidak bakal kaya) selamanya dan banyak anggan-angan (berkhayal) sepanjang masa.
Oleh karena itu, hendaknya pertama kali yang dipikirkan ketika bangun pagi adalah akhirat.
Rabu, 19 Agustus 2009
MENGGAPAI KEBAHAGIAAN SEJATI DUNIA AKHIRAT
“Barang siapa yang menginginkan dunia,
hendaknya ia menguasai ilmu;
barang siapa yang menginginkan akhirat,
hendaknya ia menguasai ilmu;
dan barang siapa yang menginginkan keduanya,
hendaknya ia menguasai ilmu juga.” (al-Hadis)
By: Yuliantoro
Tulisan ini memang sengaja saya awali dengan pertanyaan. Mengapa krisis moral terjadi di mana-mana? Mengapa krisis ekonomi terjadi tak kunjung usai? Mengapa penyakit hati merebak di masyarakat? Mengapa ketidaktenteraman makin menjadi-jadi? Mengapa perasaan tidak aman terus menghinggapi manusia di Indonesia umumnya, dan masyarakat sekitar pada khususnya? Mengapa kesulitan hidup makin tidak menentu? Dan mengapa segala sesuatu yang berhubungan dengan keduniawian makin tidak membuat kenyamanan dalam hidup? Jawaban dari semua ini adalah hubbundunya (kecintaan manusia terhadap dunia) makin menghinggapi jiwa manusia.
Sudah selalu terbukti bahwa segala sesuatu yang bertolak ukur pada semangat materialistis (keduniaaan) pada akhirnya tidak pernah membuat manusia menjadi tenang, tenteram, damai dan bahagia. Namun, orientasi hidup manusia yang ditujukan kepada kehidupan akhirat (pahala/mencari rindlo Allah) selalu ber-ending dengan kedamaian, ketenteraman, kesejukan, dan ketenangan.
Orientasi hidup untuk menggapai pahala sebagai bekal kehidupan akhirat setelah mati, menjauhkan manusia dari iri dengki, kesombongan, keserakahan, kemurkaan, kekejaman, kekerasan, dan segala sifat buruk manusia yang merugikan manusia lain. Berpedoman pada kehidupan akhirat membuat manusia memiliki kepribadian, percaya diri, memiliki prinsip dan harga diri yang ujungnya membawa pada kehidupan manusia yang beradab. Karena semua sifat buruk tersebut, merupakan syarat mutlak yang harus dihindari untuk menggapai kehidupan akhirat yang bahagia. Dalam Al Quran Allah menjanjikan kehidupan akhirat itu penuh dengan kedamaian, ketenteraman, kebahagiaan, kenyamanan serta keindahan abadi.
Sebaliknya orientasi kehidupan yang bertumpu pada materialisme dan harta benda dunia, kenyataan berakhir dengan kekacauan, keresahan, kekhawatiran, serta segala ketidaknyamanan dalam kehidupan. Ketika orang meneriakkan politik sebagai panglima, endingnya ya huri hura dan kekacauan politik yang membuat rakyat/masyarakat sengsara. Ketika ekonomi menjadi tolak ukur keberhasilan pembangunan, nyatanya yang terjadi justru kesulitan hidup, ketidaktenteraman, kekhawatiran, serta ketidakdamaian dalam hidup.
Oleh karena itu, sudah saatnya manusia/Negara maupun masyarakat segera mengubah paradigma kehidupan dari pikiran materialistis (orientasi uang) menjadi orientasi pahala (akhirat untuk menggapai akhirat). Bekerjalah dengan semangat untuk mencari pahala Allah, bukan untuk kepentingan uang. Rejeki itu sudah ketetapan Allah. Sekeras apapun kerja seseorang dalam mengejar materi (uang) kalau memang bukan menjadi rejeki tidak akan tercapai. Sebaliknya, sesantai apapun (bukan malas) manusia dalam bekerja kalau memang sudah menjadi ketetapan ya akan tercapai dengan baik.
hendaknya ia menguasai ilmu;
barang siapa yang menginginkan akhirat,
hendaknya ia menguasai ilmu;
dan barang siapa yang menginginkan keduanya,
hendaknya ia menguasai ilmu juga.” (al-Hadis)
By: Yuliantoro
Tulisan ini memang sengaja saya awali dengan pertanyaan. Mengapa krisis moral terjadi di mana-mana? Mengapa krisis ekonomi terjadi tak kunjung usai? Mengapa penyakit hati merebak di masyarakat? Mengapa ketidaktenteraman makin menjadi-jadi? Mengapa perasaan tidak aman terus menghinggapi manusia di Indonesia umumnya, dan masyarakat sekitar pada khususnya? Mengapa kesulitan hidup makin tidak menentu? Dan mengapa segala sesuatu yang berhubungan dengan keduniawian makin tidak membuat kenyamanan dalam hidup? Jawaban dari semua ini adalah hubbundunya (kecintaan manusia terhadap dunia) makin menghinggapi jiwa manusia.
Sudah selalu terbukti bahwa segala sesuatu yang bertolak ukur pada semangat materialistis (keduniaaan) pada akhirnya tidak pernah membuat manusia menjadi tenang, tenteram, damai dan bahagia. Namun, orientasi hidup manusia yang ditujukan kepada kehidupan akhirat (pahala/mencari rindlo Allah) selalu ber-ending dengan kedamaian, ketenteraman, kesejukan, dan ketenangan.
Orientasi hidup untuk menggapai pahala sebagai bekal kehidupan akhirat setelah mati, menjauhkan manusia dari iri dengki, kesombongan, keserakahan, kemurkaan, kekejaman, kekerasan, dan segala sifat buruk manusia yang merugikan manusia lain. Berpedoman pada kehidupan akhirat membuat manusia memiliki kepribadian, percaya diri, memiliki prinsip dan harga diri yang ujungnya membawa pada kehidupan manusia yang beradab. Karena semua sifat buruk tersebut, merupakan syarat mutlak yang harus dihindari untuk menggapai kehidupan akhirat yang bahagia. Dalam Al Quran Allah menjanjikan kehidupan akhirat itu penuh dengan kedamaian, ketenteraman, kebahagiaan, kenyamanan serta keindahan abadi.
Sebaliknya orientasi kehidupan yang bertumpu pada materialisme dan harta benda dunia, kenyataan berakhir dengan kekacauan, keresahan, kekhawatiran, serta segala ketidaknyamanan dalam kehidupan. Ketika orang meneriakkan politik sebagai panglima, endingnya ya huri hura dan kekacauan politik yang membuat rakyat/masyarakat sengsara. Ketika ekonomi menjadi tolak ukur keberhasilan pembangunan, nyatanya yang terjadi justru kesulitan hidup, ketidaktenteraman, kekhawatiran, serta ketidakdamaian dalam hidup.
Oleh karena itu, sudah saatnya manusia/Negara maupun masyarakat segera mengubah paradigma kehidupan dari pikiran materialistis (orientasi uang) menjadi orientasi pahala (akhirat untuk menggapai akhirat). Bekerjalah dengan semangat untuk mencari pahala Allah, bukan untuk kepentingan uang. Rejeki itu sudah ketetapan Allah. Sekeras apapun kerja seseorang dalam mengejar materi (uang) kalau memang bukan menjadi rejeki tidak akan tercapai. Sebaliknya, sesantai apapun (bukan malas) manusia dalam bekerja kalau memang sudah menjadi ketetapan ya akan tercapai dengan baik.
SAYANGILAH SAUDARAMU KARENA ALLAH
By: Yuliantoro
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwasannya Rasulullah SAW bersabda ada seorang laki-laki hendak mengunjungi saudaranya sesama orang iman atau Islam di satu desa dengan desa yang lainnya. Kemudian Allah menaruh malaikat di tengah jalan yang dilewati orang itu. Ketika orang itu sampai di tempat malaikat (tengah jalan itu), malaikat bertanya: “Hendak ke mana engkau?” Laki-laki itu menjawab: “Saya hendak mengunjungi saudaraku di desa itu”. Malaikat itu bertanya lagi: “Apakah engkau punya hutang budi kepada saudaramu.” Laki-laki itu menjawab: “Oh nggak bukan itu masalahnya. Jadi saya itu mencintai dia karena Allah. Saya mengunjungi saudaraku itu karena menyayangi dia.” Dan malaikat itu berkata: “Sesungguhnya aku ini utusan Allah untukmu. Aku ini malaikat Allah yang diutus kepadamu untuk mengabarkan bahwa Allah menyayangimu sebagaimana engkau menyayangi saudaramu.”
Hadist tersebut mengandung pelajaran bahwa kita dianjurkan mengunjungi (menziarahi), menemani, menjadi sahabat, menyayangi saudara atau teman seiman dan Islam semata-mata karena Allah. Artinya sayangilah, kunjungilah, temanilah saudara kita semata-mata karena mengharap pahala dan ridlo Allah. Mengunjungi, menziarahi teman atau saudara jangan karena merasa berhutang budi atau ada kepentingan yang sifatnya duniawiah terhadap pada orang itu.
Persahabatan, jalin silaturahim, mengunjungi, menyayangi saudara karena memang orang itu rajin beribadah atau sayang kepada Allah. Karena Allah memang menyuruh begitu. Menziarahi saudara dengan landasan dan niat karena Allah pahalannya besar sekali. Tapi kalau mengunjungi teman karena urusan bisnis ya hanya untung duniawi saja kalau urusan bisnis itu terjadi.
Kiai Fuad Riyadi dalam sebuah majelis ngaji (taklim) mengatakan dulu ada tradisi di kalangan santri tiap tahun mengungunjungi Abuya Dimyati Banten (ulama). Kunjungan itu karena sayang dan Allah semata untuk mengharapkan pahala yang besar. Meziarahi Kiai itu sama halnya dengan menziarahi ulama (pewaris Nabi).
“Mengunjungi kiai atau para ulama ketika lebaran hendaknya untuk meminta tambah doa restu. Kalau lebaran saat mengunjungi kiai mengatakan sedoyo lepat nyuwun pangapunten, itu adalah salah. Karena kiai itu selalu memaafkan. Juga meminta doa pangestu. Yang benar adalah saya minta tambah doa.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwasannya Rasulullah SAW bersabda ada seorang laki-laki hendak mengunjungi saudaranya sesama orang iman atau Islam di satu desa dengan desa yang lainnya. Kemudian Allah menaruh malaikat di tengah jalan yang dilewati orang itu. Ketika orang itu sampai di tempat malaikat (tengah jalan itu), malaikat bertanya: “Hendak ke mana engkau?” Laki-laki itu menjawab: “Saya hendak mengunjungi saudaraku di desa itu”. Malaikat itu bertanya lagi: “Apakah engkau punya hutang budi kepada saudaramu.” Laki-laki itu menjawab: “Oh nggak bukan itu masalahnya. Jadi saya itu mencintai dia karena Allah. Saya mengunjungi saudaraku itu karena menyayangi dia.” Dan malaikat itu berkata: “Sesungguhnya aku ini utusan Allah untukmu. Aku ini malaikat Allah yang diutus kepadamu untuk mengabarkan bahwa Allah menyayangimu sebagaimana engkau menyayangi saudaramu.”
Hadist tersebut mengandung pelajaran bahwa kita dianjurkan mengunjungi (menziarahi), menemani, menjadi sahabat, menyayangi saudara atau teman seiman dan Islam semata-mata karena Allah. Artinya sayangilah, kunjungilah, temanilah saudara kita semata-mata karena mengharap pahala dan ridlo Allah. Mengunjungi, menziarahi teman atau saudara jangan karena merasa berhutang budi atau ada kepentingan yang sifatnya duniawiah terhadap pada orang itu.
Persahabatan, jalin silaturahim, mengunjungi, menyayangi saudara karena memang orang itu rajin beribadah atau sayang kepada Allah. Karena Allah memang menyuruh begitu. Menziarahi saudara dengan landasan dan niat karena Allah pahalannya besar sekali. Tapi kalau mengunjungi teman karena urusan bisnis ya hanya untung duniawi saja kalau urusan bisnis itu terjadi.
Kiai Fuad Riyadi dalam sebuah majelis ngaji (taklim) mengatakan dulu ada tradisi di kalangan santri tiap tahun mengungunjungi Abuya Dimyati Banten (ulama). Kunjungan itu karena sayang dan Allah semata untuk mengharapkan pahala yang besar. Meziarahi Kiai itu sama halnya dengan menziarahi ulama (pewaris Nabi).
“Mengunjungi kiai atau para ulama ketika lebaran hendaknya untuk meminta tambah doa restu. Kalau lebaran saat mengunjungi kiai mengatakan sedoyo lepat nyuwun pangapunten, itu adalah salah. Karena kiai itu selalu memaafkan. Juga meminta doa pangestu. Yang benar adalah saya minta tambah doa.
Sabtu, 15 Agustus 2009
HADIST KETIGA : 5 DASAR ISLAM
Sabtu ini deadline LKTI Depag. Dua bulan tenggat waktu tersedia, sebenarnya cukup untuk menyelesaikan tulisan 30an halaman. But, aku gagal memanage diri sendiri. Meski tiada aktifitas tersia bila diniatkan untuk ibadah, namun aku tak mampu menyempurnakannya. Tugasku tak selesai.
HADIST KETIGA : 5 DASAR ISLAM
Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Khatab ra. bahwa beliau mendengar Rasulallah Saw bersabda, “Islam itu didirikan di atas lima dasar: bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah dan berpuasa Ramadhan.”
Catatan.
Syahadat merupakan perjanjian pribadi mahluk dengan Sang Chalik. Begitupun dengan pelaksanaan ibadah puasa.
Ingkar atau tidak hanya pribadi dan Tuhan yang tahu.
Shalat, zakat dan haji berdimensi ukuwah.
Kelimanya merupakan kesatuan yang tak terpisah dan saling menguatkan.
Tidak Islam (selamat) orang yang menduakan Allah.
Tidak selamat orang yang tidak meniru akhlak Rasulallah Saw.
Tidak sempurna iman bila sholat tidak ditegakkan dalam perbuatan
Tidak masuk surga orang yang mampu berhaji tapi sayang biaya.
Tersesat orang yang mampu memberi tapi menahannya atas nama kebutuhan diri yang tiada habisnya
Jangan kau kata mensyukuri nikmat Allah bila saudaramu sengasara dan kau bahagia di atas penderitaannya.
Sudah Islamkah kita ???
HADIST KETIGA : 5 DASAR ISLAM
Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Khatab ra. bahwa beliau mendengar Rasulallah Saw bersabda, “Islam itu didirikan di atas lima dasar: bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah dan berpuasa Ramadhan.”
Catatan.
Syahadat merupakan perjanjian pribadi mahluk dengan Sang Chalik. Begitupun dengan pelaksanaan ibadah puasa.
Ingkar atau tidak hanya pribadi dan Tuhan yang tahu.
Shalat, zakat dan haji berdimensi ukuwah.
Kelimanya merupakan kesatuan yang tak terpisah dan saling menguatkan.
Tidak Islam (selamat) orang yang menduakan Allah.
Tidak selamat orang yang tidak meniru akhlak Rasulallah Saw.
Tidak sempurna iman bila sholat tidak ditegakkan dalam perbuatan
Tidak masuk surga orang yang mampu berhaji tapi sayang biaya.
Tersesat orang yang mampu memberi tapi menahannya atas nama kebutuhan diri yang tiada habisnya
Jangan kau kata mensyukuri nikmat Allah bila saudaramu sengasara dan kau bahagia di atas penderitaannya.
Sudah Islamkah kita ???
Senin, 15 Juni 2009
BELAJAR KEPEMIMPINAN DARI PERMAINAN SEPAK BOLA
“Setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertangung jawaban atas kepemimpinannya”
Dalam hidup, sebagaimana permainan sepak bola (atau permainan beregu apapun ) orang harus tahu job discription masing-masing. Suatu urusan akan sempurna hasilnya bila dikerjakan orang yang ahli di bidangnya. Hal ini bukan berarti orang tidak boleh mencoba sesuatu yang baru. Bukan begitu maksudnya. Hidup adalah proses yang setiap tahapannya harus dijalani dengan kesungguhan sembari terus belajar agar out put yang dihasilkan makin mendekati sempurna. Ada urusan tertentu yang terlalu riskan bila tidak diserahkan ahlinya. Elektronik, misalnya. Seorang yang tidak paham elektronika tentulah sangat riskan bila membongkar sebuah komputer. Padahal itu baru perumpamaan yang menyangkut benda secara fisik. Bagaimana dengan urusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak bila tidak dihandle oleh ahlinya? Tentu semua menjadi kacau dan banyak orang yang menjadi korban ketidakadilan.
Rasulullah SAW adalah pemimpin yang terbaik, terbijak dan paling cerdas di antara semua mahluk. Namun kita yang mengaku sebagai umatnya tidak mau meneladani kepemimpinan beliau. Hal ini seperti terlihat dalam sebuah permainan sepak bola yang kacau. Masing-masing individu ingin menonjolkan diri dan tidak bisa bekerjasama sebagai team. Akhirnya apa yang terjadi? Kekalahan telak dari team lawan.
Sebenarnya hidup juga sebuah permainan. Kalah atau menangnya akan ditentukan nanti bila kita sudah mati. Sukses dalam hidup berarti cukupnya bekal untuk kehidupan hakiki sesudah kematian. Dalam sebuah permainan kalah atau menang bukanlah hal yang terpenting. Kesungguhan dalam menjalani berdasarkan ilmu yang dimilikilah yang menjadi ukuran kemenangan sebenar. Sering orang membekali diri dengan ilmu yang banyak. Namun karena tidak dapat menundukkan hawa nafsunya maka ilmunya menjadi hiasan belaka, tersia-sia.
Orang yang mampu menundukkan nafsunya adalah orang cerdas dalam arti yang sebenarnya. Ia mampu memahami hakekat hidup dan berjuang untuk mencapai kedudukan yang tertingi baik di dunia maupun di akhirat kelak. The right men in the right place. Orang cerdas mampu hidup dimanapun, dalam posisi dan kondisi apapun. Tidak banyak mengeluh, karena di setiap keadaan pasti ada kemudahan, selalu ada celah untuk keluar dari masalah selagi mau sungguh-sungguh berusaha. Orang yang dapat menundukkan nafsunya adalah pemimpin sejati, penerus risalah Nabi dan harus ditaati perintahnya.
Pemimpin sejati harus konsisten dalam menyampaikan kebenaran. Kadang kebenaran menyakitkan, karena itu seyogyanya disampaikan dengan cara halus dan sebijak mungkin. Bila tidak berhasil, penyampaiannya harus disertai ketegasan sikap. Meski banyak orang yang tidak suka namun kebenaran harus disampaikan apa adanya, tidak boleh diutak-atik demi kepentingan dunia semata. Konsistensi dalam penyampaiannya akan membuat kebenaran mudah dipahami dan akhirnya diterima sehingga ada perubahan sikap ke arah yang lebih baik dan mempermudah tercapainya tujuan bersama.
Dalam hidup, sebagaimana permainan sepak bola (atau permainan beregu apapun ) orang harus tahu job discription masing-masing. Suatu urusan akan sempurna hasilnya bila dikerjakan orang yang ahli di bidangnya. Hal ini bukan berarti orang tidak boleh mencoba sesuatu yang baru. Bukan begitu maksudnya. Hidup adalah proses yang setiap tahapannya harus dijalani dengan kesungguhan sembari terus belajar agar out put yang dihasilkan makin mendekati sempurna. Ada urusan tertentu yang terlalu riskan bila tidak diserahkan ahlinya. Elektronik, misalnya. Seorang yang tidak paham elektronika tentulah sangat riskan bila membongkar sebuah komputer. Padahal itu baru perumpamaan yang menyangkut benda secara fisik. Bagaimana dengan urusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak bila tidak dihandle oleh ahlinya? Tentu semua menjadi kacau dan banyak orang yang menjadi korban ketidakadilan.
Rasulullah SAW adalah pemimpin yang terbaik, terbijak dan paling cerdas di antara semua mahluk. Namun kita yang mengaku sebagai umatnya tidak mau meneladani kepemimpinan beliau. Hal ini seperti terlihat dalam sebuah permainan sepak bola yang kacau. Masing-masing individu ingin menonjolkan diri dan tidak bisa bekerjasama sebagai team. Akhirnya apa yang terjadi? Kekalahan telak dari team lawan.
Sebenarnya hidup juga sebuah permainan. Kalah atau menangnya akan ditentukan nanti bila kita sudah mati. Sukses dalam hidup berarti cukupnya bekal untuk kehidupan hakiki sesudah kematian. Dalam sebuah permainan kalah atau menang bukanlah hal yang terpenting. Kesungguhan dalam menjalani berdasarkan ilmu yang dimilikilah yang menjadi ukuran kemenangan sebenar. Sering orang membekali diri dengan ilmu yang banyak. Namun karena tidak dapat menundukkan hawa nafsunya maka ilmunya menjadi hiasan belaka, tersia-sia.
Orang yang mampu menundukkan nafsunya adalah orang cerdas dalam arti yang sebenarnya. Ia mampu memahami hakekat hidup dan berjuang untuk mencapai kedudukan yang tertingi baik di dunia maupun di akhirat kelak. The right men in the right place. Orang cerdas mampu hidup dimanapun, dalam posisi dan kondisi apapun. Tidak banyak mengeluh, karena di setiap keadaan pasti ada kemudahan, selalu ada celah untuk keluar dari masalah selagi mau sungguh-sungguh berusaha. Orang yang dapat menundukkan nafsunya adalah pemimpin sejati, penerus risalah Nabi dan harus ditaati perintahnya.
Pemimpin sejati harus konsisten dalam menyampaikan kebenaran. Kadang kebenaran menyakitkan, karena itu seyogyanya disampaikan dengan cara halus dan sebijak mungkin. Bila tidak berhasil, penyampaiannya harus disertai ketegasan sikap. Meski banyak orang yang tidak suka namun kebenaran harus disampaikan apa adanya, tidak boleh diutak-atik demi kepentingan dunia semata. Konsistensi dalam penyampaiannya akan membuat kebenaran mudah dipahami dan akhirnya diterima sehingga ada perubahan sikap ke arah yang lebih baik dan mempermudah tercapainya tujuan bersama.
1.779 SUARA BAGI YUNINGSIH PURWOASTUTI S.Sos.
Bagiku, sebenarnya politik bukan sesuatu yang benar-benar baru. Berasal dari komunitas Sospol UGM, bersuamikan seorang wartawan yang kepalanya pernah ditodong pistol polisi saat meliput sebuah bentrokan antara polisi dengan massa sebuah parpol di Jogja serta ditinggal untuk meliput peristiwa berdarah Semanggi II di Jakarta (padahal ketika itu kami masih pengantin baru, belum 40 hari), membuat percakapan kami sehari-hari tidak jauh dari situasi carut marutnya kondisi politik dan perekonomian bangsa. Suamiku, Mas Yuli (sekampus, dua tingkat diatasku) sebenarnya lebih dahulu terjun ke kancah politik dengan menjadi simpatisan sebuah partai, bahkan pada pemilu 1997 dia nyaris menjadi caleg.
Pada awal 2008 seorang kenalan dari DPP Partai Gerindra meminta bantuan suamiku untuk membentuk kepengurusan cabang di DIY. Karena ingin menjaga netralitas kewartawanannya dengan tidak terlibat politik praktis, akhirnya aku yang masuk partai, dengan menjadi Wakil Ketua DPC Gerindra Bantul. Dari sanalah keterlibatanku dengan politik praktis bermula.
Meski seorang wakil ketua namun aku relatif kurang aktif di kepengurusan. Aku hanya beberapa kali muncul di kantor DPC Bantul, selebihnya bersama suamiku melakukan berbagai lobi dengan rekan-rekan Gerindra di luar pertemuan resmi. Bahkan sampai saat inipun aku belum pernah melihat KTA ku, karena tidak kuurus sendiri.
Ketika ramai-ramai masa pencalegan, aku yang tidak berambisi menjadi anggota dewan semula santai-santai saja. Namun ketika kusadari bahwa peluang yang ada adalah sebentuk rizki dari Allah, maka aku memutuskan untuk memanfaatkan peluang tersebut. Sempat bingung mau nyaleg dari mana, namun akhirnya kuputuskan menjadi caleg pusat, maju untuk kursi DPR RI dapil DIY. Ketika itu berbagai tanggapan muncul. Peraturan 30% minimal caleg perempuan membuat banyak pihak meremehkan karena beranggapan bahwa aku maju sekedar untuk memenuhi aturan itu. Tidak sepenuhnya salah memang, karena banyak orang tidak tahu posisiku di DPC Bantul dan peran suamiku di Gerindra Jogja. Semua itu tidak penting, karena bukankah yang penting adalah aksi dan bukannya saling klaim seperti yang dilakukan banyak orang selama ini? Heboh, pembenaran persepsi sendiri, padahal fakta-fakta lapangan tidak dikuasai.
Btw, banyak juga yang beranggapan bahwa itu adalah sesuatu yang keren. Keren? Menjadi caleg adalah suatu kesempatan yang langka dan bagi beberapa orang cukup prestisius. Ada beberapa rekan yang menyayangkan keputusan tersebut karena jangankan untuk maju di pusat, untuk tingkat kabupaten saja persaingannya sangat berat. Aku keukeuh. Aku tidak mau setengah-tengah dalam menjalani sesuatu yang baru. Aku merasa kompetibel - insyaallah - karena yakin bahwa Allah tahu apa yang terbaik bagi setiap hambaNya.
Proses pengurusan dokumen untuk pencalegan kujalani bersama-sama dengan suamiku yang pada saat sama maju nyalon anggota KPUD Bantul. Kemana-mana, bertiga dengan anakku yang ketiga, Tsauban 3,5 tahun, kami pontang panting dari rumah Kotagede ke berbagai instansi di Bantul dan sekitarnya. Karena carut marut aturan dari KPU, akhirnya beberapa dokumen yang kami persiapkan tidak terpakai. Buang waktu, tenaga dan uang saja. Untunglah ketika itu kami (aku dan suami) menjalaninya bersama-sama dan semua itu dalam rangka memenuhi kewajiban mahluk untuk menjemput rizki dariNya. Kalau tidak meluruskan niat mungkin sebelum semua urusan selesai sudah merasa lelah dan putus asa karena begitu banyak birokrasi yang harus dilalui.
Ketika masa kampanye tiba, aku yang sudah bertekad tidak akan mengeluarkan materi untuk kampanye, berusaha menahan setiap godaan yang datang. Aku mencoba bertahan karena sekali aku terbawa nafsu, tidak ada kata cukup dan berhenti. Tiga minggu sebelum hari pencontrengan tiba barulah aku mencetak kartu nama empat boks -400 lembar- dengan biaya seratus ribu rupiah. Itu adalah bentuk penghargaan kepada beberapa orang yang mendukungku, bukti bahwa aku sungguh-sungguh nyaleg. Ini terjadi karena banyak diantaranya tidak tahu nama lengkapku dan mereka sungkan untuk menanyakannya. Kartu nama tersebut dibagikan pada satu, dua kenalan dan saudara yang kebetulan bertemu. Aku memang kebangetan. Bahkan teman-temanku eks Str’91 pun tidak kuberi kabar kalau aku nyaleg.
Jangan dikira di rumahku ada atribut partai. Satu stiker kecilpun tidak ada, apalagi spanduk dan stok kaos yang menggunung. Bendera jatah dari pusat pun menguap entah ke mana, tak pernah sampai ke rumah. Hiruk pikuk kampanye tidak kualami, aku lebih banyak berdiam diri dan seolah tidak terlibat semua keramaian itu. Seorang rekan hanya tertawa kecil ketika kuibaratkan aku ini pemain bola, tapi aku lebih tertarik berdiri tepi lapangan mengamati permainan dan bukannya ikut main di lapangan.
Banyak sekali hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa ini. Aku belajar tentang bagaimana memaknai persahabatan, kesungguhan dalam mengemban amanah dan bahkan menyaksian berbagai penghianatan terhadap komitmen yang dibangun bersama. Selama menjadi caleg aku hanya muncul sekali di podium untuk menyampaikan uraian singkat tentang visi misi pencalonanku pada saat kampanye terbuka Partai Gerindra di Alun-alun Utara Jogja, yang dihadiri Ketua Umum Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto beserta rombongan serta segenap pengurus dan caleg partai Gerindra se-Jogja serta lebih dari 10.000 simpatisan.
Aku terpaksa naik podium bersama Tsauban karena dia rewel dan tidak mau ditinggal di bawah bersama ayahnya. Hal ini sempat menjadi sorotan KPUD Jogja, namun karena anakku tidak mengenakan atribut partai maka hal tersebut dapat dimaklumi. Bagi seorang perempuan sekaligus ibu rumah tangga berperan di sektor publik terkadang memang lebih repot bila di banding laki-laki di sektor yang sama. Pembekalan yang diberikan kepada para caleg di Hotel Matahari Jogja tidak dapat kujalani dengan maksimal karena Tsauban tidak bisa kutitipkan dan suamiku harus bekerja di luar kota. Ketika Gerindra mengadakan pelatihan caleg di Cibubur dan Musyawarah Nasional di Jakarta akupun tidak ikut. Meskipun suamiku mengijinkan, berat rasanya meninggalkan anak-anak sampai berhari-hari. Sebenarnya aku juga sudah terbiasa berpisah dengan anak-anak, yaitu bila mereka pergi berlibur ke tempat neneknya. Bahkan dulu Rani kecil yang saat itu belum genap satu tahun pernah kutitipkan ibu Wonosobo selama 3 hari karena aku harus mengurus skripsiku di Jogja. Tapi meninggalkan rutinitas harian demi partai, bagiku bukan lah pengorban yang setimpal dengan risiko yang kutanggung. Aku, perempuan, pergi sendiri lebih dari 3 hari , tanpa muhrim, di lingkungan yang asing, ach rasanya aku malu pada Allah bila tetap nekat pergi.
Kembali ke pemilu, suara yang kuperoleh berdasar data resmi KPU Jogja. Hingga saat ini aku tidak tahu berapa angka yang keluar di KPU pusat, entah tambah atau bahkan berkurang banyak Aku tidak peduli. Aku tahu betapa kacaunya penyelenggaraan pemilu kali ini. Bagi beberapa kalangan suaraku yang menyebar rata, 1 sampai 3 suara hampir di setiap TPS se-DIY menimbulkan rasa heran yang sangat. Bagaimana mungkin, ditengah ketatnya persaingan antar caleg - tanpa kampanye lagi! - aku mendapat suara lumayan. Aku sendiri tidak terkejut, pun bangga karenanya. Biasa saja. Semua Allah yang mengatur dan aku bersyukur karenanya.
Pada awal 2008 seorang kenalan dari DPP Partai Gerindra meminta bantuan suamiku untuk membentuk kepengurusan cabang di DIY. Karena ingin menjaga netralitas kewartawanannya dengan tidak terlibat politik praktis, akhirnya aku yang masuk partai, dengan menjadi Wakil Ketua DPC Gerindra Bantul. Dari sanalah keterlibatanku dengan politik praktis bermula.
Meski seorang wakil ketua namun aku relatif kurang aktif di kepengurusan. Aku hanya beberapa kali muncul di kantor DPC Bantul, selebihnya bersama suamiku melakukan berbagai lobi dengan rekan-rekan Gerindra di luar pertemuan resmi. Bahkan sampai saat inipun aku belum pernah melihat KTA ku, karena tidak kuurus sendiri.
Ketika ramai-ramai masa pencalegan, aku yang tidak berambisi menjadi anggota dewan semula santai-santai saja. Namun ketika kusadari bahwa peluang yang ada adalah sebentuk rizki dari Allah, maka aku memutuskan untuk memanfaatkan peluang tersebut. Sempat bingung mau nyaleg dari mana, namun akhirnya kuputuskan menjadi caleg pusat, maju untuk kursi DPR RI dapil DIY. Ketika itu berbagai tanggapan muncul. Peraturan 30% minimal caleg perempuan membuat banyak pihak meremehkan karena beranggapan bahwa aku maju sekedar untuk memenuhi aturan itu. Tidak sepenuhnya salah memang, karena banyak orang tidak tahu posisiku di DPC Bantul dan peran suamiku di Gerindra Jogja. Semua itu tidak penting, karena bukankah yang penting adalah aksi dan bukannya saling klaim seperti yang dilakukan banyak orang selama ini? Heboh, pembenaran persepsi sendiri, padahal fakta-fakta lapangan tidak dikuasai.
Btw, banyak juga yang beranggapan bahwa itu adalah sesuatu yang keren. Keren? Menjadi caleg adalah suatu kesempatan yang langka dan bagi beberapa orang cukup prestisius. Ada beberapa rekan yang menyayangkan keputusan tersebut karena jangankan untuk maju di pusat, untuk tingkat kabupaten saja persaingannya sangat berat. Aku keukeuh. Aku tidak mau setengah-tengah dalam menjalani sesuatu yang baru. Aku merasa kompetibel - insyaallah - karena yakin bahwa Allah tahu apa yang terbaik bagi setiap hambaNya.
Proses pengurusan dokumen untuk pencalegan kujalani bersama-sama dengan suamiku yang pada saat sama maju nyalon anggota KPUD Bantul. Kemana-mana, bertiga dengan anakku yang ketiga, Tsauban 3,5 tahun, kami pontang panting dari rumah Kotagede ke berbagai instansi di Bantul dan sekitarnya. Karena carut marut aturan dari KPU, akhirnya beberapa dokumen yang kami persiapkan tidak terpakai. Buang waktu, tenaga dan uang saja. Untunglah ketika itu kami (aku dan suami) menjalaninya bersama-sama dan semua itu dalam rangka memenuhi kewajiban mahluk untuk menjemput rizki dariNya. Kalau tidak meluruskan niat mungkin sebelum semua urusan selesai sudah merasa lelah dan putus asa karena begitu banyak birokrasi yang harus dilalui.
Ketika masa kampanye tiba, aku yang sudah bertekad tidak akan mengeluarkan materi untuk kampanye, berusaha menahan setiap godaan yang datang. Aku mencoba bertahan karena sekali aku terbawa nafsu, tidak ada kata cukup dan berhenti. Tiga minggu sebelum hari pencontrengan tiba barulah aku mencetak kartu nama empat boks -400 lembar- dengan biaya seratus ribu rupiah. Itu adalah bentuk penghargaan kepada beberapa orang yang mendukungku, bukti bahwa aku sungguh-sungguh nyaleg. Ini terjadi karena banyak diantaranya tidak tahu nama lengkapku dan mereka sungkan untuk menanyakannya. Kartu nama tersebut dibagikan pada satu, dua kenalan dan saudara yang kebetulan bertemu. Aku memang kebangetan. Bahkan teman-temanku eks Str’91 pun tidak kuberi kabar kalau aku nyaleg.
Jangan dikira di rumahku ada atribut partai. Satu stiker kecilpun tidak ada, apalagi spanduk dan stok kaos yang menggunung. Bendera jatah dari pusat pun menguap entah ke mana, tak pernah sampai ke rumah. Hiruk pikuk kampanye tidak kualami, aku lebih banyak berdiam diri dan seolah tidak terlibat semua keramaian itu. Seorang rekan hanya tertawa kecil ketika kuibaratkan aku ini pemain bola, tapi aku lebih tertarik berdiri tepi lapangan mengamati permainan dan bukannya ikut main di lapangan.
Banyak sekali hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa ini. Aku belajar tentang bagaimana memaknai persahabatan, kesungguhan dalam mengemban amanah dan bahkan menyaksian berbagai penghianatan terhadap komitmen yang dibangun bersama. Selama menjadi caleg aku hanya muncul sekali di podium untuk menyampaikan uraian singkat tentang visi misi pencalonanku pada saat kampanye terbuka Partai Gerindra di Alun-alun Utara Jogja, yang dihadiri Ketua Umum Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto beserta rombongan serta segenap pengurus dan caleg partai Gerindra se-Jogja serta lebih dari 10.000 simpatisan.
Aku terpaksa naik podium bersama Tsauban karena dia rewel dan tidak mau ditinggal di bawah bersama ayahnya. Hal ini sempat menjadi sorotan KPUD Jogja, namun karena anakku tidak mengenakan atribut partai maka hal tersebut dapat dimaklumi. Bagi seorang perempuan sekaligus ibu rumah tangga berperan di sektor publik terkadang memang lebih repot bila di banding laki-laki di sektor yang sama. Pembekalan yang diberikan kepada para caleg di Hotel Matahari Jogja tidak dapat kujalani dengan maksimal karena Tsauban tidak bisa kutitipkan dan suamiku harus bekerja di luar kota. Ketika Gerindra mengadakan pelatihan caleg di Cibubur dan Musyawarah Nasional di Jakarta akupun tidak ikut. Meskipun suamiku mengijinkan, berat rasanya meninggalkan anak-anak sampai berhari-hari. Sebenarnya aku juga sudah terbiasa berpisah dengan anak-anak, yaitu bila mereka pergi berlibur ke tempat neneknya. Bahkan dulu Rani kecil yang saat itu belum genap satu tahun pernah kutitipkan ibu Wonosobo selama 3 hari karena aku harus mengurus skripsiku di Jogja. Tapi meninggalkan rutinitas harian demi partai, bagiku bukan lah pengorban yang setimpal dengan risiko yang kutanggung. Aku, perempuan, pergi sendiri lebih dari 3 hari , tanpa muhrim, di lingkungan yang asing, ach rasanya aku malu pada Allah bila tetap nekat pergi.
Kembali ke pemilu, suara yang kuperoleh berdasar data resmi KPU Jogja. Hingga saat ini aku tidak tahu berapa angka yang keluar di KPU pusat, entah tambah atau bahkan berkurang banyak Aku tidak peduli. Aku tahu betapa kacaunya penyelenggaraan pemilu kali ini. Bagi beberapa kalangan suaraku yang menyebar rata, 1 sampai 3 suara hampir di setiap TPS se-DIY menimbulkan rasa heran yang sangat. Bagaimana mungkin, ditengah ketatnya persaingan antar caleg - tanpa kampanye lagi! - aku mendapat suara lumayan. Aku sendiri tidak terkejut, pun bangga karenanya. Biasa saja. Semua Allah yang mengatur dan aku bersyukur karenanya.
Langganan:
Postingan (Atom)