Kamis, 20 Mei 2010

Jangan sekalikali berani meminta agar diberi cobaan oleh Tuhan, karena pasti kita takkkan kuat melaluinya.......

batas pemenuhan keinginan

kebanyakan manusia tidak pernah merasa puas dengan begitu banyak pemberian Tuhan yang hingga hari ini masih dapat dinikmatinya. Meski secara materi sudah berlebih, namun masih saja menghendaki milik orang lain yang sebenarnya secara fisik nilainya jauh lebih rendah dibanding apa yang dimilikinya. Memang sulit mengatur kata hati, karena kalau diperturutkan ada begitu banyak ambisi tersimpan di sana. Padahal semakin banyak keinginan, makin banyak pula yang takkan terpenuhi.....
keadilan hanya dapat ditegakkan dengan mengesampingkan perasaan dan kepentingan pribadi... cinta hadir untuk mengasah kepekaan terhadap keadaan sekitar, bukan sebagai dalih bahwa memperturutkan perasaan adalah kehendakNya... hidup hanya berbilang tahun, namun manusia menghabiskan waktu untuk menggapai kepuasan semu... padahal bukankah semua kepentingan mahluk sudah dijamin pemenuhannya oleh penciptaNya......
suami terbaik adalah yang paling baik dalam memperlakukan istrinya... istri terbaik adalah yang paling baik dalam mentati amanah dari suaminya...

Rabu, 05 Mei 2010

TOMBO ATI

Tombo ati iku ono limang perkoro
kaping pisan, moco Quran sa’maknane
kaping pindo, sholat wengi lakonono
kaping telu, wong kang sholeh kumpulono
kaping papat, wetengiro ingkang luwe
kaping limo, dzikir wengi ingkang suwe

salah akwijine sopo biso ngelakoni
insya Allah Gusti Pangeran ngijabahi

cinta Quran dengan menyelami maknanya
sujudkan jiwa raga di tengah sunyi malam
kepada orang sholeh dirimu senantiasa dekatkan
adapun terhadap rasa lapar upayakan bertahan
dan atas keasyikan zhikir jangan pernah bosan

salah satu saja engkau khusyu’ melakukannya
insya Allah nasibmu akan dirawat oleh Yang Maha Kuasa

ADAPTASI DARI SAYIDINA ALI BIN ABI THALIB
DITERJEMAHKAN DAN DIPOPULERKAN OLEH KYAI BISRI MUSTOFA
MERUPAKAN SALAH SATU LAGU DARI ALBUM “KADO MUHAMMAD” EMHA AINUN NADJIB DAN GAMELAN KIAI KANJENG.

WANITA SHALIHAH

Shalihah atau tidaknya seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan Allah. Aturan-aturan tersebut berlaku universal, bukan saja bagi wanita yang sudah menikah, tapi juga bagi remaja putri.
Mulialah wanita shalihah. Di dunia, ia akan menjadi cahaya bagi keluarganya dan berperan melahirkan generasi dambaan. Jika ia wafat, Allah akan menjadikannya bidadari di surga. Kemuliaan wanita shalihah digambarkan Rasulullah SAW dalam sabdanya, "Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah". (HR. Muslim).
Dalam Al-Quran surat An-Nur: 30-31, Allah Swt memberikan gambaran wanita shalihah sebagai wanita yang senantiasa mampu menjaga pandangannya. Ia selalu taat kepada Allah dan Rasul Nya. Make up-nya adalah basuhan air wudhu. Lipstiknya adalah dzikir kepada Allah. Celak matanya adalah memperbanyak bacaan Al-Quran.
Wanita shalihah sangat memperhatikan kualitas kata-katanya. Tidak ada dalam sejarahnya seorang wanita shalihah centil, suka jingkrak-jingkrak, dan menjerit-jerit saat mendapatkan kesenangan. Ia akan sangat menjaga setiap tutur katanya agar bernilai bagaikan untaian intan yang penuh makna dan bermutu tinggi. Dia sadar betul bahwa kemuliaannya bersumber dari kemampuannya menjaga diri (iffah).
Wanita shalihah itu murah senyum. Baginya, senyum adalah shadaqah. Namun, senyumnya tetap proporsional. Tidak setiap laki-laki yang dijumpainya diberikan senyuman manis. Senyumnya adalah senyum ibadah yang ikhlas dan tidak menimbulkan fitnah bagi orang lain.
Wanita shalihah juga pintar dalam bergaul. Dengan pergaulan itu, ilmunya akan terus bertambah. Ia akan selalu mengambil hikmah dari orang-orang yang ia temui. Kedekatannya kepada Allah semakin baik dan akan berbuah kebaikan bagi dirinya maupun orang lain.
Ia juga selalu menjaga akhlaknya. Salah satu ciri bahwa imannya kuat adalah kemampuannya memelihara rasa malu. Dengan adanya rasa malu, segala tutur kata dan tindak tanduknya selalu terkontrol. Ia tidak akan berbuat sesuatu yang menyimpang dari bimbingan Al-Quran dan Sunnah. Ia sadar bahwa semakin kurang iman seseorang, makin kurang rasa malunya. Semakin kurang rasa malunya, makin buruk kualitas akhlaknya.
Pada prinsipnya, wanita shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Rambu-rambu kemuliaannya bukan dari aneka aksesoris yang ia gunakan. Justru ia selalu menjaga kecantikan dirinya agar tidak menjadi fitnah bagi orang lain. Kecantikan satu saat bisa jadi anugerah yang bernilai. Tapi jika tidak hati-hati, kecantikan bisa jadi sumber masalah yang akan menyulitkan pemiliknya sendiri.
Saat mendapat keterbatasan fisik pada dirinya, wanita shalihah tidak akan pernah merasa kecewa dan sakit hati. Ia yakin bahwa kekecewaan adalah bagian dari sikap kufur nikmat. Dia tidak akan merasa minder dengan keterbatasannya. Pribadinya begitu indah sehingga make up apa pun yang dipakainya akan memancarkan cahaya kemuliaan. Bahkan, kalaupun ia "polos" tanpa make up sedikit pun, kecantikan jiwanya akan tetap terpancar dan menyejukkan hati orang-orang di sekitarnya.
Jika ingin menjadi wanita shalihah, maka belajarlah dari lingkungan sekitar dan orang-orang yang kita temui. Ambil ilmunya dari mereka. Bahkan kita bisa mencontoh istri-istri Rasulullah Saw. seperti Aisyah. Ia terkenal dengan kekuatan pikirannya. Seorang istri seperti beliau bisa dijadikan gudang ilmu bagi suami dan anak-anak.
Contoh pula Siti Khadijah, figur istri shalihah penentram batin, pendukung setia, dan penguat semangat suami dalam berjuang di jalan Allah Swt. Beliau berkorban harta, kedudukan, dan dirinya demi membela perjuangan Rasulullah. Begitu kuatnya kesan keshalihahan Khadijah, hingga nama beliau banyak disebut-sebut oleh Rasulullah walau Khadijah sendiri sudah meninggal. Bisa jadi wanita shalihah muncul dari sebab keturunan. Seorang pelajar yang baik akhlak dan tutur katanya, bisa jadi gambaran seorang ibu yang mendidiknya menjadi manusia berakhlak. Sulit membayangkan, seorang wanita shalihah ujug-ujug muncul tanpa didahului sebuah proses. Di sini, faktor keturunan memainkan peran. Begitu pun dengan pola pendidikan, lingkungan, keteladanan, dan lain-lain. Apa yang tampak, bisa menjadi gambaran bagi sesuatu yang tersembunyi.
Banyak wanita bisa sukses. Namun tidak semua bisa shalihah. Shalihah atau tidaknya seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan Allah. Aturan-aturan tersebut berlaku universal, bukan saja bagi wanita yang sudah menikah, tapi juga bagi remaja putri. Tidak akan rugi jika seorang remaja putri menjaga sikapnya saat mereka berinteraksi dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Bertemanlah dengan orang-orang yang akan menambah kualitas ilmu, amal, dan ibadah kita. Ada sebuah ungkapan mengatakan, "Jika kita ingin mengenal pribadi seseorang maka lihatlah teman-teman di sekelilingnya."
Peran wanita shalihah sangat besar dalam keluarga, bahkan negara. Kita pernah mendengar bahwa di belakang seorang pemimpin yang sukses ada seorang wanita yang sangat hebat. Jika wanita shalihah ada di belakang para lelaki di dunia ini, maka berapa banyak kesuksesan yang akan diraih. Selama ini, wanita hanya ditempatkan sebagai pelengkap saja, yaitu hanya mendukung dari belakang, tanpa peran tertentu yang serius. Wanita adalah tiang Negara. Bayangkanlah, jika tiang penopang bangunan itu rapuh, maka sudah pasti bangunannya akan roboh dan rata dengan tanah. Tidak akan ada lagi yang tersisa kecuali puing-puing yang nilainya tidak seberapa. Kita tinggal memilih, apakah akan menjadi tiang yang kuat atau tiang yang rapuh? Jika ingin menjadi tiang yang kuat, kaum wanita harus terus berusaha menjadi wanita shalihah dengan mencontoh pribadi istri-istri Rasulullah.
Dengan terus berusaha menjaga kehormatan diri dan keluarga serta taat beribadah, maka pesona wanita shalihah akan melekat pada diri kaum wanita kita.
(pengusahamuslim.com)

SEMBUHKAH SAKITKU DENGAN SEDEKAH

Syaikh Sulaiman bin Abdul Karim Al-Mufarrij berkata, "Wahai saudaraku yang sedang sakit, sedekah yang dimaksudkan dalam hadis ini adalah sedekah yang diniatkan untuk memperoleh kesembuhan. Boleh jadi anda telah banyak bersedekah, tetapi tidak anda niatkan untuk mendapatkan kesembuhan dari Allah. Karena itu, cobalah lagi sekarang dan tumbuhkanlah keyakinan bahwa Allah akan menyembuhkan diri anda. Isilah perut para fakir miskin hingga kenyang, atau santunilah anak yatim, atau wakafkanlah harta anda, atau berikanlah sedekah amal jariyah. Sesungguhnya sedekah dapat mengangkat dan menghilangkan berbagai penyakit, musibah, dan cobaan. Ini sudah banyak dialami orang-orang yang diberi taufik dan hidayah oleh Allah sehingga mereka memperoleh obat penawar ruhaniah dan lebih bermanfaat ketimbang hanya obat-obatan biasa.
Juga, Rasulullah SAW telah melakukan pengobatan dengan metode ruhaniyah ilahiyyah (yang menitik beratkan pada aspek keimanan, ketaatan, dan keyakinan kepada Allah). Demikian juga dengan para generasi salafus saleh, mereka juga selalu bersedekah sesuai kadar sakit dan derita yang menimpa mereka. Sedekah yang mereka keluarkan adalah harta yang sangat berkualitas. "Wahai saudaraku yang sedang sakit, janganlah anda bakhil terhadap diri anda sendiri, sekaranglah waktunya untuk sedekah." (Shifatun 'ilajiyyah Tuzilu Al-Amradh bin Al-Kulliyyah)

Kisah berikut ini diceritakan sendiri oleh orang yang mengalaminya kepada Syaikh Sulaiman bin Abdul Karim Al-Mufarrij. Orang itu berkata, "Aku mempunyai putri balita yang menderita penyakit di tenggorokannya. Telah kebawa dia keluar masuk beberapa rumah sakit dan berkonsultasi dengan banyak dokter, tetapi tidak ada hasilnya. Penyakit putriku bahkan memburuk. Hampir-hampir akupun jatuh sakit memikirkannya dan perhatian seluruh keluarga tersita untuk mengurusinya. Yang bisa kami lakukan hanyalah memberinya obat untuk mengurangi rasa sakitnya. Kalau bukan karena rahmat Allah SWT, rasanya kami sudah putus asa.
Namun suatu hari ada seorang yang saleh meneleponku dan menyampaikan hadis Rasulullah SAW, bahwa 'Obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan bersedekah.'
Kukatakan kepadanya, 'sungguh aku sudah banyak bersedekah!. Tapi beliau berkata, 'Bersedekahlah kali ini dengan niat agar Allah SWT menyembuhkan putrimu.'
Aku langsung mengeluarkan sedekah yang sangat sederhana kepada seorang fakir. Tak ada perubahan kepada putriku. Kusampaikan hal itu kepada orang saleh tersebut. Katanya, 'Anda adalah orang yang mendapatkan banyak nikmat dan harta. Cobalah engkau bersedekah dalam jumlah lebih banyak.
Setelah mendengar itu, aku mengisi mobil sepenuh-penuhnya dengan beras, lauk pauk dan bahan makanan lainnya, lalu kubagi-bagikan langsung kepada orang-orang yang membutuhkan sehingga mereka sangat senang menerimanya. Dan demi Allah (aku bersumpah), aku tidak akan pernah lupa ketika sedekah itu habis kubagikan, Alhamdulillah putriku yang sedang sakit sembuh sempurna. Sejak saat itu, aku menyakini bahwa di antara sebab-sebab syar'i yang paling utama untuk meraih kesembuhan adalah sedekah.
Dan sekarang, berkat karunia Allah SWT, putriku telah tiga tahun tidak mengalami sakit apapun. Aku pun banyak mengeluarkan sedekah terutama mewakafkan harta pada hal-hal yang baik dan (Alhamdulillah) setiap hari aku merasakan nikmat dan kesehatan kepada diri sendiri maupun pada keluarga. Juga, aku merasakan keberkahan dalam hartaku."
("Sedekah Cinta", Diana Ekarini dan Ary Nilandari)